Share

Potret Cerita dari Tarakan Field

Galih Pradipta/ Antara Foto, Jurnalis · Sabtu 19 November 2022 21:33 WIB

Dikenal sebagai Bumi Paguntaka, Kota Tarakan yang berada di Provinsi Kalimantan Utara memiliki wilayah seluas 657,33 km2 dengan jumlah penduduk mencapai 244.185 jiwa. Tarakan merupakan satu-satunya kota yang berada di ujung utara Pulau Kalimantan dengan mobilitas tertinggi di antara daerah-daerah lain di wilayah Kalimantan Utara.

Kata Tarakan berasal dari Bahasa Tidung yang artinya tempat singgah (tarak) dan makan (ngakan). Jadi, Tarakan memiliki makna sebagai tempat persinggahan, istirahat, dan melakukan barter bagi nelayan-nelayan dari kerajaan Tidung.

Letak dan posisinya yang strategis serta melimpahnya sumber daya alam khususnya minyak bumi membuat kota Tarakan menjadi incaran bangsa-bangsa Eropa dan Asia sejak dulu kala. Melimpahnya produksi minyak di Tarakan menjadi penyebab perseteruan pemerintah kolonial Hindia Belanda dan Jepang. Mereka saling berebut memilikinya.

Tarakan dikenal sebagai penghasil minyak berkualitas tinggi dan murni (world purest oil). Konon kapal-kapal besar bisa langsung memasukkan minyak ke dalam tangki sehingga keberadaan industri minyak di Kota Tarakan pun menjadi salah satu pemicu Perang Dunia II di Asia Pasifik.

Jika ditilik lebih jauh ke belakang, Kota Tarakan memiliki jejak guratan sejarah yang cukup panjang. Pada tahun 1897, sebuah perusahaan dagang Belanda dengan nama Nederlandsch-Indische Industrie- & Handel-Maatschappij (NIHM) menemukan adanya sumber minyak. Delapan tahun lamanya NIHM menguasai wilayah Tarakan. Berbagai kegiatan dilakukan seperti eksplorasi, pengelolaan dan eksploitasi minyak. Selanjutnya, Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) menggantikannya pada rentang tahun 1905 hingga 1942.

Sejak saat itu, pemerintah Hindia Belanda menjadikan Kota Tarakan sebagai kota penting. Yakni dengan membangun 700 sumur minyak dan berhasil memproduksi hingga mencapai 350.000 barel minyak per bulan. Bahkan mampu memproduksi 6 juta barel per tahun.

Kehadiran Jepang di Indonesia untuk pertama kali pada era Perang dunia II pada tahun 1942 -1945 khususnya di wilayah Tarakan menandai berakhirnya pengolahan dan eksploitasi minyak oleh perusahaan dagang asal Belanda, BPM.

Dunia perminyakan dan Perang Dunia II di Kota Tarakan memiliki nilai sejarah yang kuat dan saling berkaitan. Setelah Indonesia merdeka, pengelolaan minyak di Tarakan dilanjutkan oleh Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara atau yang dikenal sebagai PT Pertamina.

Saat ini eksplorasi dan eksploitasi sumber daya minyak dan gas bumi dikelola oleh PT Pertamina EP Tarakan Field. PEP Tarakan Field memiliki area kerja seluas 30,07 km2 di Provinsi Kalimantan Utara yang meliputi Lapangan Sembakung, Mangatal, Juata, Sesanip dan Pamusian. Produksi minyak bumi tercatat sebesar 1.911 BPOD dan gas bumi sebanyak 2,38 MMSCFD.

Tidak hanya berkontribusi kepada peningkatan lifting minyak PT Pertamina EP Tarakan Field juga berkontribusi kepada lingkungan sekitar. Misalnya pemberian bantuan Kelompok Usaha Bersama Disabilitas Batik (Kubedistik). Tujuannya untuk mendorong perekonomian para penyandang disabilitas di wilayah tersebut.

Sementara capaian lainnya terkait konservasi alam. Yakni berhasil meningkatkan populasi bekantan (Nasalis larvatus) dari 31 ekor menjadi 45 ekor serta menambah populasi tanaman tarap hingga 673 pohon dan mengkonservasi 27 jenis mangrove di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB).

KKMB atau lebih dikenal dengan nama Hutan Mangrove Tarakan seluas 22 hektare yang terletak di Karang Rejom Tarakan Barat itu menjadi istana Bekantan. Bekantan yang kerap disebut Monyet Belanda karena berhidung mancung itu merupakan hewan endemik pulau Kalimantan yang tersebar di hutan bakau, rawa, dan hutan pantai. Konservasi Bekantan oleh PT Pertamina EP Tarakan Field menjadi vital karena hewan tersebut termasuk satwa dengan status terancam punah (endangered) dan ditempatkan dalam CITES (Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Satwa Dan Tumbuhan Liar Terancam Punah) apendiks I akibat dari konversi lahan hutan dan degradasi habitat.

Foto dan Teks: ANTARA FOTO/Galih Pradipta (ddk)


 

(Galih Pradipta/ Antara Foto)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini