100 Buku Pilihan Warnai Indonesia Sejak Era Kolonial

MPI, Jurnalis · Sabtu 18 Desember 2021 13:11 WIB

Daftar 100 buku yang mewarnai Indonesia sejak era Kolonial sudah dirilis oleh Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena ketika menyambut Sumpah Pemuda, Oktober 2021 lalu.

 

Kini enam buku dari serial 100 buku pilihan itu diluncurkan di Jakarta, 16 Desember 2021. Enam buku itu: Habis Gelap Terbitlah Terang (RA Kartini), Salah Asuhan (Abdul Muis), Layar Terkembang (Sutan Takdir Alisjahbana), Sitti Nurbaya (Marah Rusli), Azab dan Sengsara (Merari Siregar) dan Atheis (Achdiyat K Mihardja).

 

Denny JA selaku ketua umum Satupena menyatakan. Ia terinspirasi dengan kerja Library of Congres di Amerika Serikat yang menerbitkan kembali 88 buku yang membentuk Amerika Serikat. Ia juga terilhami oleh daftar 100 western canon books: daftar 100 buku yang mewarnai sejarah dunia barat.

 

Indonesia perlu memiliki versinya sendiri atas 100 buku yang mewarnai Indonesia sejak era kolonial.Di samping peluncuran 6 buku serial 100 buku pilihan itu, Satupena juga meluncurkan buku perdana Print on Demand karya Dr. Satrio Arismunandar: Prilaku Korupsi Elit Politik Indonesia.

 

Denny JA mengutip Umberto Eco. Ia seorang novelis dari Italia. Novelnya yang terkemuka berjudul: in The Name of The Rose. Umberco menyatakan. Buku yang bagus itu adalah buku yang dibaca. Sebagus apapun sebuah buku, jika Ia tak dibaca, bagusnya tak diketahui.

 

Umberco menyatakan ini karena Ia prihatin. Ia melihat semakin menurunnya minat membaca buku di negaranya. Percuma buku yang bagus, jika semakin tak dibaca. Inilah yang menjadi latar belakang mengapa kita menerbitkan kembali buku- buku bagus dalam sejarah indonesia, ujar Denny.

 

 

(Foto: MPI) (hru)

(MPI)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini