Share

Perhatikan Ini!, Ingin Masuk Universitas Ternama di Luar Negeri Tak Hanya Memperhatikan Nilai Akademik

Heru Haryono, Jurnalis · Senin 15 Agustus 2022 06:43 WIB

Country Manager Indonesia at Crimson Education Vanya Sunarto bersama denga Academic Crimson Education Lombardo Goantara saat memberi keterangan perihal “Startegi Menembus Universitas Terbaik Dunia : Apa yang Harus Dipersipakan Pelajar Indonesia di Jakarta. Membaiknya situasi pandemi di seluruh dunia memantik kembali harapan para orang tua untuk memberangkatkan anaknya menempuh pendidikan di Universitas terbaik, seperti Ivy League dan universitas kelas dunia lainnya seperti Stanford, MIT, dan UC Berkeley. Sayangnya, perjuangan menembus universitas-universitas ini tidaklah mudah. Terlebih tahun ini, hampir seluruh universitas terbaik dunia mencatatkan angka rata-rata penerimaan yang semakin rendah seiring tingginya minat calon mahasiswa. Untuk

menembus ketatnya seleksi pendaftaran di universitas-universitas tersebut, tentunya para orang tua membutuhkan informasi memadai untuk mempersiapkan putra-putrinya dengan sebuah strategi khusus.

 

Dalam Press Conference Crimson Education (10/08), Daniel Chung, Former Associate Director of Admissions di Stanford University yang hadir secara virtual menjelaskan bahwa memang banyak orang tua yang hanya berfokus pada nilai akademik untuk mengantar

anak-anaknya masuk ke universitas pilihan. “Mungkin praktik semacam ini umum berlaku di sistem pendidikan berbagai negara. Namun, berbeda halnya jika ingin memasuki universitassekelas Ivy League di Amerika Serikat (AS), cemerlang secara akademis saja tidaklah memadai. Siswa yang tidak mencantumkan aktivitas ekstrakurikuler dan pengalaman kepemimpinan dalam aplikasinya akan sulit dipertimbangkan masuk ke universitas AS manapun apalagi Ivy League,” papar Daniel Chung.

 

Dalam lingkungan kompetitif ini, prestasi akademis tidak selalu cukup untuk mendapatkan pengakuan dan membuat siswa tersebut diterima di universitas unggulan. Setiap tahunnya, universitas-universitas unggulan di AS menerima puluhan ribu aplikasi, tetapi hanya sebagian kecil mahasiswa yang diterima. Saat menyeleksi puluhan ribu aplikasi, umumnya dari siswa-siswi berprestasi seluruh duniapihak universitas akan menilai calon mahasiswasecara holistik, sehingga kegiatannya di luar ruang kelas turut memberikan bobot yang besar.

 

Sebagai contoh, Stanford menolak 69% calon mahasiswa dengan skor SAT sempurna dalam lima tahun terakhir. Universitas-universitas unggulan di AS seperti Stanford ingin melihat mahasiswa yang dapat membawa pengaruh positif bagi budaya kampus dan menambah kekayaan sejarah alumninya, sehingga tolok ukur tidak lagi sekadar skor SAT sempurna.

 

Vanya Sunarto menambahkan kemampuan berorganisasi dan kepemimpinan. telah membuktikan bahwa nilai pendekatan ini berhasil lebih baik dibandingkan dengan siswa yang sekadar cemerlang secara akademis dalam penerimaan universitas kelas dunia.  Sistem pendidikan di AS yang unik dan khusus umumnya akan sedikit menyulitkan siswa-siswi dari belahan dunia lainnya, termasuk Indonesia, karena adanya perbedaan kurikulum akademik dan ekosistem ekstrakurikuler. Sebagai perbandingan, untuk menjadi mahasiswa di AS, seorang siswa setidaknya perlu memiliki tiga modal utama, yaitu hasil akademik (berbobot 40% yang terdiri dari nilai transkrip akademik, SAT/ACT, dan AP/IB/A-Levels/GPA), serta kegiatan ekstrakurikuler dan kepemimpinan juga hasil esai dan wawancara (yang sama-sama berbobot 30%).

 

Inilah yang perlu disadari dengan cermat. “Calon mahasiswa dari Indonesia mulai kini perlu memiliki setidaknya satu kegiatanekstrakurikuler yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Kegiatan tersebut juga perlu menjadi fokus sejak dini, karena konsistensi adalah kunci untuk membangun profil ekstrakurikuler.

(Heru Haryono)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini